Hidup itu seperti bersepeda. Ada tanjakan ada turunan. Saat sedang menanjak, janganlah terlalu bernafsu mencapai puncak. Atur nafas, atur tenaga, konstankan putaran supaya efektif mencapai puncak dan konsentrasi tetap ada untuk menghadapi turunan. Saat sedang menurun. Janganlah kaget hingga terlalu cepat menarik rem, karena kamu akan terjungkal dan bahkan lebih terpuruk. Ikuti saja alur jalannya. Seimbangkan rem-nya, ambil momentum putarannya hingga saat menanjak tidak membuang banyak tenaga. Bersepeda itu bukan masalah jumlah kilometer. Tapi lebih pada menikmati setiap kayuhan untuk mendapatkan tiap kilometer itu. Sama halnya dengan kehidupan. Hidup menarik bukan karena jumlah umur yang kita miliki, tapi bagaimana kita menikmati setiap detik untuk mendapatkan umur tersebut. Bersepeda juga bukan masalah sepeda atau komponen yang ada di dalamnya. Tapi bagaimana menggunakan sepeda dan komponen tersebut untuk mendapatkan perjalanan yang menarik, yang bisa kita nikmati, dan bisa kita ceritakan. Bersepeda bukan kita banggakan karena harganya. Begitupula kehidupan. Kehidupan bukan masalah harta yang kita dapatkan, tapi bagaimana memaknai harga yang kita punya untuk membuat hidup kita lebih berharga secara batin tanpa mengesampingkan materil. Ada pepatah jawa bilang, “hidup itu cari nama bukan cari makan”, maksudnya hidup itu harus bermanfaat (bagi orang banyak) sehingga membuat nama yang baik, bukan hidup hanya cari harta tapi tak membuat perbedaan apa-apa. Sama dengan sepeda, buat apa punya sepeda kalau cerita yang kita punya hanya pada saat kita membelinya. Bukan pada saat mengendarainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar